Soroti Polemik Knetz vs SEAbling, Pakar UB : Cerminkan Kontestasi Identitas Digital Lintas Negara

Editor

Yunan Helmy

02 - Mar - 2026, 04:45

Ilustrasi polemik Knezt dan SEAbling yang terus menjadi sorotan hingga kini. (ist)


JATIMTIMES - Fenomena perdebatan sengit antara warganet Korea atau Knetz dengan netizen Asia Tenggara yang menyebut diri sebagai SEAbling tengah menjadi sorotan. Polemik yang bermula dari media sosial itu dinilai bukan sekadar perseteruan antarpenggemar K-Pop, melainkan mencerminkan dinamika identitas digital lintas negara.

Analis Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) Dr Verdy Firmantoro SIKom MIKom menilai konflik tersebut sebagai bentuk kontestasi identitas digital transnasional. Menurut dia, ruang digital saat ini bukan lagi sekadar medium interaksi, tetapi arena pertarungan simbolik antar komunitas global.

Baca Juga : Satgas MBG Kabupaten Malang Peringatkan SPPG Patuhi Skema Pemenuhan Bahan Baku, Soroti Keamanan Pangan dan Inflasi

“Platform seperti X mempercepat polarisasi karena algoritmanya mendorong keterlibatan yang sering kali dipicu oleh emosi, terutama kemarahan. Jadi ini bukan semata persoalan budaya populer, tetapi juga bagaimana sistem platform memperkuat emosi kolektif,” jelas Verdy.

Ia menambahkan, serangan verbal dari sebagian Knetz justru memunculkan efek sebaliknya. Netizen Asia Tenggara yang selama ini kerap terfragmentasi oleh rivalitas antarnegara, justru menunjukkan solidaritas ketika merasa mendapat serangan dari luar kawasan.

Fenomena ini, menurut Verdy, dalam kajian komunikasi dikenal sebagai reactive solidarity. Solidaritas tersebut lahir karena adanya pengalaman bersama sebagai pihak yang dianggap direndahkan.

“Dalam konteks ini, identitas regional dibingkai ulang. Bukan lagi soal batas negara, tetapi soal pengalaman kolektif yang sama-sama dihujat,” ujarnya.

Pandangan berbeda disampaikan pakar antropologi UB Franciscus Apriwan MA. Ia menilai pola konflik digital seperti ini bukan hal baru dan cenderung bersifat siklikal. Isu akan memuncak, menjadi viral, lalu perlahan meredup seiring munculnya topik lain yang lebih menarik perhatian publik.

“Perilaku pengguna ruang digital sering kali didorong oleh sensasi dan respons instan. Ketika ada isu baru yang lebih menarik, perhatian akan bergeser dengan cepat,” kata Franciscus.

Meski demikian, ia mengakui munculnya solidaritas warganet Asia Tenggara dalam polemik ini. Namun, menurutnya, faktor pembentuk solidaritas tersebut tidak hanya karena kesamaan nasib, melainkan juga dipengaruhi oleh karakter kelas menengah urban di kawasan ASEAN.

“Mereka adalah kelompok kelas menengah yang akrab dengan budaya K-Pop dan memiliki mobilitas tinggi di kawasan Asia Tenggara. Ketika ada narasi yang menyebut Asia Tenggara sebagai wilayah tertinggal, muncul dorongan untuk menunjukkan kebanggaan sebagai bagian dari kawasan ini,” paparnya.

Baca Juga : BPJS Ketenagakerjaan Kediri Gandeng Polres Kediri, Perkuat Kepatuhan Jaminan Sosial Pekerja

Franciscus menilai, ekspektasi bahwa konflik ini akan berdampak besar kemungkinan tidak akan terwujud. Ia memperkirakan isu tersebut akan mereda dengan sendirinya.

Namun, Verdy mengingatkan bahwa meskipun tidak berdampak langsung pada hubungan diplomatik formal antarnegara, sentimen negatif yang terus terakumulasi di ruang digital tetap berpotensi mengganggu hubungan masyarakat antarnegara atau people to people relations.

“Jika opini publik terus terbentuk secara negatif dan meluas, tentu ini bisa berdampak pada persepsi antarwarga negara,” tegasnya.

Polemik Knetz vs SEAbling sendiri bermula dari unggahan seorang netizen Malaysia di platform X yang menyoroti dugaan pelanggaran aturan dalam konser grup band asal Korea Selatan, Day6, di Malaysia. Dalam unggahan tersebut disebutkan adanya penonton asal Korea yang membawa kamera profesional, padahal hal itu dilarang oleh penyelenggara.

Alih-alih mereda, unggahan tersebut justru memicu respons keras dari sebagian warganet Korea. Respons itu tidak hanya ditujukan kepada Malaysia, tetapi meluas dengan generalisasi terhadap negara-negara Asia Tenggara. Hal inilah yang kemudian memantik kemarahan netizen kawasan, yang kemudian menyebut diri sebagai SEAbling, gabungan dari istilah Southeast Asia dan siblings.


Topik

Peristiwa, SEAbling, netizen Asia Tenggara, Knetz, netizen Korea Selatan, perdebatan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette