Polisi Berpeci dan Bersorban Saat Demo BEM UI di Mabes Polri Jadi Sorotan, Ini Tuntutannya
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
27 - Feb - 2026, 08:21
JATIMTIMES - Aksi demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) menarik perhatian publik. Selain karena sederet tuntutan yang dibawa mahasiswa, penampilan aparat kepolisian yang berjaga juga menjadi bahan perbincangan.
Sejak siang hari, massa aksi mulai memadati kawasan Mabes Polri. Spanduk dan poster tuntutan dibentangkan, sementara orator secara bergantian menyampaikan kritik terhadap institusi kepolisian. Namun di tengah suasana tersebut, publik dibuat penasaran dengan penampilan aparat yang berbeda dari biasanya.
Baca Juga : Polresta Malang Kota Bongkar 19 Kasus Narkoba: 1,3 Kg Sabu dan 263 Butir Ekstasi Disita
Dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial, terlihat polisi laki-laki mengenakan peci dan sorban putih. Sementara polisi wanita (polwan) memakai kerudung putih. Penampilan ini berbeda dengan pengamanan aksi pada umumnya, di mana aparat biasanya menggunakan baret dan atribut standar pengamanan lapangan.
Momen itu bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Selain berjaga, aparat kepolisian juga terlihat mengajak massa aksi untuk bershalawat bersama menjelang waktu berbuka puasa. Beberapa peserta aksi tampak mengikuti lantunan shalawat, menciptakan suasana yang sejenak lebih tenang di tengah demonstrasi.
Meski demikian, penampilan tersebut tidak luput dari sorotan massa. Dari atas mobil komando, salah satu orator menyinggung langsung atribut yang dikenakan aparat.
“Jangan karena baju itu kalian bisa mengambil hati kami,” teriaknya, disambut riuh massa aksi.
Pernyataan itu menegaskan bahwa bagi mahasiswa, substansi tuntutan tetap menjadi hal utama, terlepas dari pendekatan simbolik yang dilakukan aparat.
Lima Tuntutan yang Disuarakan
Dalam aksi tersebut, BEM UI membawa lima tuntutan utama yang secara tegas ditujukan kepada institusi Polri dan pimpinan tertingginya. Berikut poin-poin yang disampaikan massa aksi:
• Mendesak penjatuhan hukuman pidana seberat-beratnya kepada polisi yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan AT serta aparat yang melakukan tindakan represif terhadap masyarakat.
• Mendesak pencopotan Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri dan Dadang Hartanto dari jabatan Kapolda Maluku.
• Menuntut pembebasan seluruh tahanan politik yang dinilai mengalami kriminalisasi.
• Menuntut penegakan batas kewenangan kepolisian serta penarikan anggota Polri dari jabatan sipil.
• Mendorong hasil konkret reformasi Polri secara struktural, kultural, dan instrumental melalui komisi percepatan Reformasi Polri.
Mahasiswa menilai reformasi kepolisian belum berjalan secara menyeluruh. Mereka menyoroti berbagai kasus kekerasan aparat, dugaan penyalahgunaan kewenangan, serta tumpang tindih peran institusi kepolisian di ranah sipil.
Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat namun relatif kondusif. Mahasiswa bergantian menyampaikan orasi, sementara aparat tetap berjaga di sepanjang pintu masuk Mabes Polri.
Penggunaan atribut religius oleh aparat di tengah aksi demonstrasi ini pun memicu beragam respons dari publik. Ada yang menilai langkah tersebut sebagai bentuk pendekatan persuasif di bulan Ramadan, namun ada pula yang menganggapnya sebagai simbolik semata.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, aksi BEM UI kali ini kembali menegaskan bahwa isu reformasi kepolisian masih menjadi perhatian serius di kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil.
