Pemkot Blitar Hidupkan Spirit Perjuangan Supriyadi Lewat Drama Kolosal “Alap-Alap Daidan PETA Blitar”

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya

15 - Feb - 2026, 09:13

Sosok Shodanco Supriyadi dihidupkan kembali di atas panggung drama kolosal “Alap-Alap Daidan PETA Blitar”, menggambarkan keberanian dan determinasi para pejuang PETA dalam melawan penjajah. Semangat perjuangan itu kembali menyala di Museum PETA Blitar.(Foto: Prokopim Pemkot Blitar)


JATIMTIMES — Pemerintah Kota Blitar menegaskan komitmennya merawat ingatan kolektif sejarah melalui pentas budaya. Sabtu malam, 14 Februari 2026, halaman Museum PETA Blitar dipadati ratusan warga yang menyaksikan drama kolosal “Alap-Alap Daidan PETA Blitar”, peringatan Hari Cinta Tanah Air dan Perjuangan Tentara PETA Blitar ke-81.

Sorot lampu menembus gelap, dentum musik teatrikal mengiringi adegan heroik yang merekonstruksi perlawanan pasukan PETA di bawah komando Shodanco Supriyadi pada 14 Februari 1945. Di tempat inilah, 81 tahun silam, bumi Blitar mencatat sejarah perlawanan terhadap penjajah Jepang, sebuah letupan keberanian yang mengguncang kekuasaan kolonial.

Supri

Mas Ibin: PETA adalah Roh dan Identitas Kota Blitar

Wali Kota Blitar, H. Syauqul Muhibbin yang akrab disapa Mas Ibin, dalam sambutannya menegaskan bahwa peristiwa PETA bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan identitas yang tetap hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga : Kota Batu Menuju Kota Bersinar: Wali Kota Nurochman dan Desa Bulukerto Kompak Borong Penghargaan BNN RI

“Perjuangan PETA Blitar bukan sekadar catatan sejarah dalam buku-buku sekolah. Ini adalah roh, identitas, dan kebanggaan kita sebagai warga Kota Blitar,” ujar Mas Ibin di hadapan  jajaran Forkopimda, Kepala Bakorwil III Malang, pimpinan DPRD, serta ratusan masyarakat yang hadir dan menyaksikan melalui siaran langsung.

Menurut dia, semangat “Alap Alap Daidan” yang diangkat sebagai tema tahun ini menggambarkan determinasi, keberanian, dan cinta tanah air yang melampaui kepentingan pribadi. Burung alap alap yang menjadi simbol rajawali ditafsirkan sebagai representasi keteguhan dan daya juang para pemuda PETA.

“Melalui drama kolosal ini, kita memutar kembali memori kolektif bangsa. Kita ingin memastikan api perjuangan Supriyadi dan para pahlawan tidak pernah padam ditelan zaman,” katanya.

Ibin

Transformasi Semangat Perjuangan ke Arah Pembangunan

Mas Ibin menekankan, tantangan generasi saat ini memang berbeda dari 1945. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan senjata, kini medan juangnya adalah pembangunan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Di era 2026 ini, perjuangan kita bukan lagi perlawanan fisik terhadap penjajah. Perjuangan kita adalah meningkatkan kualitas pendidikan, mengentaskan kemiskinan, dan memperkuat nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya. “Nilai kedisiplinan, loyalitas, dan heroisme para pejuang PETA harus kita transformasikan dalam membangun Kota Blitar yang lebih maju dan sejahtera.”

Apresiasi juga disampaikan Wali Kota kepada para seniman, budayawan, panitia, dan seluruh peserta yang terlibat. Ia menyebut pertunjukan ini sebagai wujud kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam merawat sejarah melalui medium seni.

Peta

Konsep Baru Setiap Tahun, Libatkan 200 Peserta

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar, Rike Rochmawati, menjelaskan bahwa setiap tahun konsep drama kolosal PETA selalu diperbarui agar tetap relevan dan menyentuh generasi muda.

“Tahun ini temanya Alap-Alap Daidan PETA Blitar. Maknanya adalah perjuangan para pejuang PETA yang digambarkan melalui simbol alap-alap atau burung rajawali,” kata Rike.

Berbeda dari tahun sebelumnya yang memasukkan unsur kisah cinta Supriyadi, pertunjukan tahun ini difokuskan pada narasi perjuangan pasukan PETA dalam melawan penjajah Jepang.

“Tahun kemarin pertunjukan ditambah dengan cerita cinta Soepriyadi. Tapi tahun ini fokus terhadap bagaimana perjuangan tentara PETA dalam melawan penjajah. Semangat perjuangan itu digambarkan dengan burung rajawali,” ujarnya.

Sebanyak sekitar 200 peserta terlibat dalam pementasan ini, terdiri atas seniman lokal dan siswa-siswi sekolah se-Kota Blitar. Mereka menjalani proses latihan intensif selama hampir satu bulan.

“Persiapannya sekitar satu bulan dengan melibatkan sekitar 200 peserta dari seniman dan siswa-siswi Kota Blitar,” imbuh Rike.

Baca Juga : Pengangguran Usia Muda Jadi Sorotan, Yordan DPRD Jatim Tekankan Akses Pelatihan

Menurut dia, drama kolosal PETA telah menjadi agenda tahunan Pemkot Blitar dalam rangka memperingati Hari Cinta Tanah Air dan Perjuangan PETA. Tujuannya jelas: menanamkan nasionalisme dan kecintaan terhadap sejarah lokal yang memiliki dampak nasional.

“Harapan kami, generasi muda mengenal perjuangan PETA dan menanamkan jiwa nasionalisme serta cinta tanah air. Pertunjukan ini juga terbuka untuk umum agar masyarakat selalu ingat terhadap PETA Blitar,” katanya.

Jendral sudirman

Menguatkan Memori Kolektif dan Karakter Bangsa

Momentum peringatan ini juga mengingatkan publik pada keberadaan Monumen PETA dan Monumen Potlot yang berdiri tak jauh dari lokasi acara. Di Monumen Potlot itulah, untuk pertama kalinya bendera Merah Putih dikibarkan oleh Shudanco Parto Harjono, sebuah momen simbolik yang kemudian diabadikan dan diresmikan oleh Jenderal Soedirman.

Bagi Pemkot Blitar, penguatan narasi sejarah bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia menjadi bagian dari strategi pembangunan karakter. Wali Kota bahkan secara khusus menyampaikan pesan kepada pelajar yang hadir.

“Kepada anak-anakku siswa-siswi se-Kota Blitar, mengerti, mempelajari, menghayati, dan meneladani peristiwa sejarah sangat penting bagi kelangsungan bangsa ini. Seperti pesan Bung Karno: ‘Jas Merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” tegasnya.

Di tengah arus globalisasi dan tantangan digitalisasi, pendekatan kebudayaan dinilai efektif menjaga jati diri kota. Melalui panggung kolosal, sejarah tidak lagi beku dalam arsip, melainkan hidup dalam gerak, dialog, dan emosi.

Malam itu, ketika adegan klimaks perlawanan dipentaskan, tepuk tangan membahana. Sosok Supriyadi dan para tentara PETA Blitar yang didramakan di atas panggung menjelma metafora yang kuat: semangat perjuangan harus terus terbang tinggi, melintasi zaman.

“Gelora perjuangan harus terus bersemi, bersatu padu menuju Indonesia jaya,” ucap Mas Ibin menutup sambutannya.

Lewat drama kolosal ini, Pemkot Blitar tidak hanya mengenang perlawanan 1945, tetapi juga menegaskan arah 2026: membangun kota dengan fondasi sejarah, karakter, dan nasionalisme yang kokoh. Sebuah pesan bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan jiwa bangsa.

 


Topik

Pemerintahan, Syauqul muhibbin, museum peta Blitar, kota Blitar, shodanco-supriadi,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette