Harga Cabai di Kota Batu Meroket Jelang Ramadan, Sentuh Rp 100 ribu Per Kilogram

Reporter

Prasetyo Lanang

Editor

A Yahya

12 - Feb - 2026, 09:24

Cabai di Pasar Induk Among Tani mengalami fluktuasi. Harga cabai rawit menyentuh Rp100 ribu per kilogram.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)


JATIMTIMES – Masyarakat Kota Batu mulai merasakan pedasnya harga kebutuhan pokok menjelang bulan suci Ramadan. Komoditas cabai rawit di Pasar Induk Among Tani dilaporkan mengalami lonjakan harga yang signifikan, bahkan menyentuh angka Rp100 ribu per kilogram pada Rabu (11/2/2026).

Kenaikan ini tergolong drastis mengingat harga normal cabai rawit biasanya hanya berkisar di angka Rp40 ribu hingga Rp50 ribu saja per kilogram. Salah satu pedagang di pasar setempat, Syarofah, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini sebenarnya sudah merayap sejak pekan lalu.

Baca Juga : Pemkot Batu Gandeng Universitas Shimonoseki Jepang, Siapkan Investasi Rp 13 Miliar untuk Garap Pertanian Modern

"Awalnya naik ke Rp70 ribu, tapi minggu ini langsung melompat ke Rp100 ribu per kilogram. Saya ambil dari tengkulak saja sudah mahal, jadi rata-rata kami jual di angka Rp89 ribu sampai Rp100 ribu tergantung kualitas," jelas Syarofah.

Ia menambahkan, cabai memang menjadi komoditas paling sering naik turun setiap menjelang hari besar keagamaan. Dirinya bahkan menyebut tahun lalu di mana harga cabai pernah menyentuh rekor Rp170 ribu saat puncak Lebaran. Kondisi ini diperparah dengan menipisnya pasokan dari petani, sementara permintaan pasar justru sedang tinggi-tingginya.

Tak hanya cabai rawit, pantauan di lapangan menunjukkan komoditas cabai lainnya turut merangkak naik. Seperti cabai merah besar naik dari Rp20 ribu menjadi Rp32 ribu per kilogram, lalu Cabai keriting naik dari harga normal Rp21 ribu menjadi Rp34 ribu per kilogram.

Kenaikan harga ini diprediksi masih akan berfluktuasi seiring dengan mendekatnya awal Ramadan dan kondisi cuaca yang memengaruhi masa panen petani di wilayah Malang Raya.

Para pedagang menghadapi dilema stok dan risiko barang busuk. Kenaikan harga ini ternyata tidak serta-merta membawa keuntungan bagi pedagang. Aminah, pedagang di Pasar Induk Among Tani, mengaku justru merasa was-was. Selain stok yang langka, kualitas cabai yang didapat dari tengkulak seringkali bercampur dengan barang yang mulai membusuk.

Baca Juga : DPKH Lamongan Luncurkan Edufarm, Program Unggulan Pusat Belajar Peternakan bagi Anak

"Kualitasnya sedang tidak stabil, kadang dalam satu kilogram ada yang busuk sehingga tidak laku dijual. Makanya saya tidak berani nyetok banyak-banyak, yang penting habis hari itu juga daripada rugi besar karena membusuk," tutur dia.

Perempuan asal Desa Oro-Oro Ombo itu menyebut kondisi ini pun mulai berdampak ke pelaku kuliner di Kota Batu. Para pengusaha makanan mulai kesulitan menyiasati bahan baku sambal yang kian mahal. Opsi menggunakan cabai kering pun sulit dilakukan.

"Karena ketersediaannya di pasar juga mulai nggak ada. Petani banyak nggak panen," imbuh Aminah.


Topik

Ekonomi, Kota batu, cabai rawit, pasar among tani kota batu, ramadan,



Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat di Indonesia. Sektor industri, perdagangan, dan pariwisata menjadi pilar utama perekonomian Jatim. Pembangunan infrastruktur juga terus dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



cara simpan tomat
Tips Memilih Bralette